Menyongsong Kurikulum Merdeka Mandiri

48
0

Tak mau ketinggalan lembaga pendidikan yayasan Hidayatul Athfal Banyurip Alit Pekalongan melalui Madrasah Tsanawiyah menyelenggarakan kegiatan workshop Implementasi Kurikulum Merdeka sebagai wujud apresiasi dan program Mas Menteri Pendidikan kita, Nadhiem Makarim.

Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari ini dimulai sejak tanggal 19 sampai dengan 21 Juni 2022 bertempat di laboratorium Komputer MTs.S Hidayatul Athfal yang diikuti oleh semua bapak ibu guru MTs.S Hidayatul Athfal.

Workshop mengenai modul ajar, RPP, dan soal literasi, numerasi dalam rangka kurikulum merdeka mandiri tahun 2022 ini dibuka oleh Ketua Pengurus yayasan, H. Nur Setiawan, SE dengan nara sumber guru penggerak dan sekolah penggerak Ibu Siti Nurul Izzah, M.Pd. dan Ibu Ernika Sondang, SHS, S.Pd. serta Ibu Rahayu Setyorini, S.Pd.

Bapak H. Nur Setiawan dalam sambutannya yang sekaligus membuka kegiatan ini mengatakan, harapannya workshop ini dimanfaatkan dengan maksimal sebagai bekal yang berharga, tak ada salahnya kita tahu dan mengerti bagi madrasah dalam naungan kementrian agama yang sudah ada KMA 427 namun belum ada PPnya, maka tak ada kelirunya kalau MTsS hifal harus sudah siap dan harus selalu meningkatkan kualitas. Bila kita tidak bisa mengikuti dengan yang ada, maka kita akan tertinggal. Jangan di sia-siakan karena biayanya tidak sedikit, untuk mengantarkan siswa didik kita.

Bapak kepala MTs. S Hidayatul Athfal dalam sambutanya menyampaikan, Diawali Firman Allah “Allah tidak akan merubah nasib seseorang, kalau seseorang itu tak mau merubahnya sendiri.” Dan dilanjutkan dengan sebuah hadist carilah ilmu sejak lahir hingga ke liang lahat. Kurikulum adalah menjadi sumber ilmu dari guru semata, namun kurikulum KTSP dan Kurikulum 13 sekarang bukan dari guru semata. Adanya perubahan kita tak boleh lengah dengan adanya kurikulum ini, yaitu “Merdeka Belajar” seolah-oleh terikat kalau dengan kurikulum sebelumnya. Ada 3 tahapan dalam kurikulum merdeka ini, mandiri belajar, mandiri berubah, mandiri berbagi yang harus kita kembangkan sebagai pendidik. InsyaAllah akan lebih enak dan leluasa dan menjadi peluang bagi seorang guru. Dengan workshop selama 3 hari ini semoga bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh bapak ibu guru.

Selaku narsum Ibu Siti Nurul Izzah, M.Pd. memberikan apresiasi pada bapak ibu guru MTs. S Hidayatul Athfal ternyata rasa ingin tahunya, ingin belajarnya lebih tinggi walau KMA 427 sudah ada namun PP nya belum turun, namun dari madrasah sudah ingin tahu dengan ingin belajar.

Dalam praktisi mengajar ada 1 s/d 20 episode. Namun sampai sekarang belum tampak. Beda dengan Negara maju yang di handel oleh profesor-profesor atau para praktisi pendidikan di bidangnya. Nah untuk kita dalam IKM bisa mengambil di Platform Merdeka Mengajar nanti bisa di download. Capaian Pembelajaran untuk SMP atau MTs 75 % dan 25 % projek. Itulah kurikulum mandiri belajar, mandiri berubah dan mandiri berbagi.

Di negara maju berdasarkan pengalamannya Narsum Ibu Siti Nurul Izzah, M.Pd menceritakan, mengajar serius sekali dengan persiapan tak cukup dengan video, siswa akan merasa kecewa sekali jika tidak ada gurunya sehingga gak ada guru terlambat, RPP benar-benar dilaksanakan. Itu di Australia begitu pula di Singapura. Misalnya mereka dalam belajar bahasa asing Bahasa Indonesia, anak didik mencoba berpidato dengan bahasa Indonesia tentang hari raya Idul Fitri.

Dalam pelaksanaan Projek merdeka belajar ada 3 projek dalam 1 tahun pelajaran dan salah satu contoh yang sudah dilaksanakan di Sekolah Penggerak adalah seperti Penguatan kearifan lokal menjadi kegiatannya, yaitu tahfidzul juz amma. Dimensi berimtaq, mandiri. Bangunlah jiwa raga, kegiatannya pencegahan perundungan, Stop aksi perundungan dengan berkarya. Bikin Poster, Cerpen, Puisi, Film pendek dimensi kreatif, jujur, ahlak karimah. Gaya kehidupan berkelanjutan, kegiatannya membuat pupuk organik cair. Kalau sekolahnya termasuk adiwiyata misalnya. Dimensinya gotong royong, akhlak terhadap alam. Ke 3 projek ini boleh dilaksanakan dengan menggunakan system reguler atau system blok.

Untuk assesmen penilaian di kurikulum merdeka ada 3, Diagnostik, dilakukan awal pembelajaran kognitif, non kognitif (gaya belajar kinestetik, visual, atau poster vidio, auditori). Formatif, asesmen dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Sumatif, seperti asesmen akhir lingkup materi (ASLIM) dan asesmen akhir semester(ASAS). Adapun Rapornya ada dua, yaitu rapor Reguler (Nilai Ketrampilan dan Pengetahuan menjadi 1 nilai) dan raport projek.

Begitu pula dengan Ibu Ernika memberikan materinya mengenai modul ajar, RPP, dan soal literasi, numerasi dalam rangka menyambut atau menyonsong kurikulum merdeka mandiri. Rasionalnya Bapak ibu di latih untuk bisa menyusun dan mengembangkan sendiri capaian pembelajaran yang diperlukan, meliputi silabus, RPP, serta pembuatan soal berbasis literasi membaca dan numerasi. Dalam hal itu bu Ernika memberikan catatan, buatlah soal numerasi yang tidak menyulitkan sebagaimana menghitung matematika pada setiap soal yang dibuat. Buatlah soal numerasi dengan memilih kompetensi dasar yang bisa, yang ada. Karena tidak semua KD bisa dibuat soal numerasi. Dan juga jangan sampai dipaksakan.

Bapak Ahmadun, S.Ag., M.S.I selaku pengawas MTs. Se Kota Pekalongan, mengatakan tindak lanjut worshop ini harapannya bisa untuk segera di respon oleh bapak kepala dan pengurus yayasan dengan segera mengajukan surat ke Kementrian Agama Kota Pekalongan. Itu yang menjadi titik goalnya yang diulang-ulang disampaikanya.

Sedang Ibu Rahayu Setyorini dalam materinya mengajak kepada semua bapak Ibu guru agar bisa membuat soal literasi numerasi dijadikan mutu pendidikan sehingga nilai literasi berapa dan numerasi berapa menjadi fase standarnya. Setiap kali tes atau Ulangan Harian, PTS, PAT minimal bisa 2 literasi dan 3 numerasi atau bisa jadi 5 soal, berbeda dengan soal-soal pada umumnya. Hal yang menjadi tantangannya adalah harus bisa membangun peserta didik dengan motivasi dan stimulus tersendiri. Dengan soal numerasi bagaimana soal-soal itu bagi anak bisa menyelesaikan dengan logika angka-angka utk menyelesaikan masalah. Yaitu soal yang berhubungan dengan matematika atau angka-angka atau hitungan. Misal, soal untuk mapel PAI yaitu zakat atau faroid. Soal PJOK misal skor peghitungan. Intinya, cari KD yang pas untuk di numerasikan.

Numerasi disebut juga literasi numerasi dan literasi untuk soal matematika (grafik, tabel, bagan dsb.) Untuk stimulus bisa dalam bentuk cerita, berupa bacaan, gambar, tabel, grafik, dialog atau vidio atau permasalahan yang ada saat ini. Caranya melalui stimulus cerita. Untuk mapel Akidah Akhlak misalnya dengan sifat wajib, mustahil, Asmaul Husna. Konten Domain Numerasi ada 4 yaitu, Bilangan, Geometri dan Pengukuran, Aljabar, serta Data dan Ketidakpastian. Numerasi Level Kognitif, knowing atau pemahaman, applaying atau penerapan atau tersirat, Reasoning atau bernalar data. Numerasi kontek, personal, misal nama toko atau nama orang, sosial budaya misal komunitas atau masyarakat dan saintifik.

Untuk soal PG ada 4 pilihan kalau PG komplek bisa 13 atau 24 atau 123 jawaban benar bagi peserta SMA. Kalau soal dalam bentuk mennjodohkan dengan lajur kiri soal lajur kanan jawaban.

Workshop menyonsong Implementasi Kurikulum Merdeka ditutup oleh bapak Pengawas kita, Ahmadun, S.Ag., M.S.I dengan harapan supaya ada goalnya kegiatan ini sehingga bapak ibu guru bisa mampu dalam actionya.

Antusias guru dalam mengikuti kegiatan, rasa ingin tahunya tinggi sekali, sehingga waktu yang tiga hari itu, tiada terasa, testimoninya dapat dilihat dalam kegiatan tersebut seperti serasa masih kurang.

Pekalongan, 22 Juni 2022

Penulis Lutfi AC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *